Gigi Bungsu Tumbuh Miring? 5 Tanda Perlu Dicabut

Pernah merasa bagian paling belakang gusi tiba-tiba nyeri atau bengkak? Bisa jadi penyebabnya adalah gigi bungsu yang sedang tumbuh.

Masalahnya, gigi bungsu tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup untuk tumbuh dengan posisi sempurna. Akibatnya, gigi bisa tumbuh miring, hanya keluar sebagian, bahkan tetap terpendam di dalam gusi atau tulang rahang. Kondisi inilah yang dikenal sebagai gigi bungsu impaksi.

Menariknya, gigi bungsu yang tumbuh miring tidak berarti harus selalu langsung dicabut. Ada kondisi yang masih dapat dipantau, tetapi ada pula beberapa tanda yang menunjukkan bahwa pencabutan atau operasi mungkin perlu dipertimbangkan.

Lantas, kapan gigi bungsu tumbuh miring perlu dicabut?

Kenapa Gigi Bungsu Bisa Tumbuh Miring?

Gigi bungsu atau third molar merupakan gigi geraham yang terletak paling belakang dan biasanya menjadi kelompok gigi terakhir yang tumbuh.

Karena tumbuh belakangan, terkadang ruang pada rahang sudah tidak cukup. Gigi kemudian mencari arah lain untuk tumbuh dan akhirnya berada dalam posisi miring, mendatar, hanya keluar sebagian, atau bahkan tidak muncul sama sekali.

Kondisi tersebut disebut impaksi.

Impaksi gigi bungsu sendiri cukup umum. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Medicine pada 2024 menemukan bahwa prevalensi gigi bungsu impaksi secara global mencapai sekitar 36,9 persen berdasarkan individu yang diteliti.

Namun, posisi gigi saja sebenarnya belum cukup untuk menentukan apakah gigi tersebut harus dicabut.

Gigi Bungsu Tumbuh Miring, Apakah Harus Dicabut?

Jawabannya: belum tentu.

Gigi bungsu tumbuh miring yang tidak menimbulkan keluhan atau penyakit pada jaringan sekitarnya pada beberapa kondisi masih dapat dipertahankan dengan pemantauan berkala.

Clinical Practice Guideline dari Spanish Society of Oral Surgery (SECIB) yang dipublikasikan pada 2024 menyebut pencabutan lebih diindikasikan ketika gigi bungsu telah berkaitan dengan kondisi patologis, seperti infeksi, karies, penyakit periodontal, perikoronitis berulang, hingga kista atau tumor.

Karena itu, keputusan untuk mencabut gigi bungsu sebaiknya bukan hanya berdasarkan “miring atau tidak”, melainkan berdasarkan pemeriksaan kondisi gigi, gusi, gigi di sebelahnya, serta hasil pemeriksaan radiografi apabila diperlukan.

Ada beberapa tanda yang sebaiknya mulai diperhatikan.

1. Nyeri dan Bengkak yang Sering Kambuh

Rasa tidak nyaman ketika gigi bungsu mulai tumbuh bisa terjadi. Namun, Anda perlu lebih waspada apabila sakit pada bagian belakang rahang terus berulang.

Keluhan dapat berupa nyeri saat mengunyah, gusi di belakang terasa bengkak, atau rasa sakit yang menjalar hingga rahang dan area sekitar telinga.

Gigi yang hanya tumbuh sebagian juga dapat menyisakan jaringan gusi yang menutupi sebagian permukaannya. Area tersebut lebih mudah menjadi tempat sisa makanan dan bakteri terkumpul sehingga memicu peradangan.

Jika nyeri dan pembengkakan berulang, sebaiknya jangan hanya menunggu sakit tersebut hilang dengan sendirinya.

2. Gusi di Sekitar Gigi Bungsu Sering Terinfeksi

Salah satu masalah yang cukup sering berkaitan dengan gigi bungsu impaksi sebagian adalah perikoronitis, yaitu peradangan pada jaringan gusi di sekitar gigi yang sedang tumbuh.

Selain nyeri dan bengkak, keluhannya dapat disertai rasa tidak enak di dalam mulut, bau mulut, hingga kesulitan membuka mulut pada kondisi tertentu.

Expert consensus yang dipublikasikan dalam International Journal of Oral Science pada 2026 memasukkan perikoronitis berulang sebagai salah satu indikator patologis yang mendukung pertimbangan pencabutan gigi bungsu.

Artinya, apabila area yang sama terus mengalami infeksi, pemeriksaan oleh dokter gigi menjadi penting untuk mengetahui apakah gigi tersebut masih aman dipertahankan.

3. Gigi di Sebelahnya Mulai Rusak

Ini salah satu alasan mengapa gigi bungsu yang tidak terasa sakit sekalipun tetap perlu diperhatikan.

Posisi gigi bungsu yang miring ke arah depan dapat menciptakan celah sempit antara gigi bungsu dan gigi geraham kedua. Bagian tersebut sering kali sulit dijangkau oleh sikat gigi.

Akibatnya, plak dan sisa makanan dapat terkumpul dan meningkatkan risiko karies pada gigi di sebelahnya.

Systematic review dan meta-analysis tahun 2025 yang melibatkan 13 penelitian menemukan prevalensi karies distal pada gigi geraham kedua yang berdekatan dengan gigi bungsu rahang bawah impaksi sekitar 29,89 persen pada populasi penelitian yang dianalisis.

Risikonya juga ditemukan lebih tinggi pada beberapa posisi impaksi, termasuk posisi mesioangular atau gigi yang miring ke arah depan.

Jadi, masalahnya terkadang bukan hanya gigi bungsu itu sendiri, tetapi juga gigi sehat di sebelahnya.

4. Ada Kelainan pada Hasil Rontgen

Tidak semua masalah gigi bungsu dapat terlihat hanya dengan bercermin.

Pada beberapa kasus, pemeriksaan radiografi dapat menunjukkan adanya kerusakan yang sebelumnya tidak menimbulkan keluhan, seperti resorpsi pada gigi di sebelahnya, perubahan pada jaringan sekitar gigi, hingga lesi seperti kista.

American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons atau AAOMS memasukkan karies yang tidak dapat direstorasi, resorpsi, penyakit periodontal, infeksi, serta kelainan berupa kista atau tumor sebagai beberapa kondisi yang dapat menjadi indikasi perawatan gigi bungsu impaksi. Inilah alasan pemeriksaan dokter dan radiografi dapat menjadi bagian penting sebelum menentukan apakah gigi bungsu sebaiknya dipertahankan atau dicabut.

5. Area Gigi Bungsu Sulit Dibersihkan dan Terus Bermasalah

Posisinya paling belakang saja sudah membuat gigi bungsu lebih sulit dijangkau saat menyikat gigi.

Jika ditambah posisi miring atau hanya tumbuh sebagian, membersihkan area tersebut tentu menjadi semakin sulit.

Namun, perlu diingat bahwa sulit dibersihkan saja belum otomatis berarti gigi harus dicabut.

Pencabutan biasanya lebih relevan apabila kondisi tersebut sudah menyebabkan masalah seperti karies, infeksi berulang, atau penyakit pada jaringan sekitar.

Karena itu, pemeriksaan secara langsung tetap dibutuhkan untuk menentukan pilihan perawatan yang tepat.

Kenapa Perlu Rontgen Sebelum Operasi Gigi Bungsu?

Rontgen Gigi Bungsu Estetika Dental Clinic

Posisi yang terlihat di dalam mulut hanyalah sebagian dari gambaran sebenarnya.

Dokter juga perlu mengetahui arah tumbuh gigi, bentuk akar, kedalaman impaksi, kondisi tulang di sekitarnya, hingga hubungan akar gigi dengan struktur anatomi penting.

Rekomendasi klinis dari American Dental Association dan American Academy of Oral and Maxillofacial Radiology tahun 2026 menyebut radiografi panoramik dapat digunakan untuk evaluasi dan perencanaan perawatan gigi bungsu apabila terdapat indikasi klinis. Pemeriksaan tiga dimensi seperti CBCT digunakan secara selektif sesuai kebutuhan, bukan sebagai pemeriksaan rutin pada setiap pasien.

Pada gigi bungsu rahang bawah, misalnya, posisi akar terhadap kanal saraf perlu diperhatikan sebelum tindakan dilakukan.

Hasil pemeriksaan inilah yang membantu dokter menentukan tingkat kesulitan tindakan dan rencana perawatan yang sesuai untuk setiap pasien.

Jadi, jangan heran apabila dokter menyarankan pemeriksaan radiografi sebelum melakukan pencabutan atau operasi gigi bungsu.

Apakah Operasi Gigi Bungsu Sakit?

Kekhawatiran mengenai rasa sakit menjadi salah satu alasan banyak orang menunda pemeriksaan gigi bungsu.

Pada tindakan operasi gigi bungsu atau odontektomi, area tindakan umumnya diberikan anestesi sehingga pasien tidak merasakan nyeri tajam selama prosedur berlangsung. Expert consensus mengenai penatalaksanaan gigi bungsu yang dipublikasikan pada 2026 menyebut anestesi lokal sebagai metode yang rutin digunakan dalam pencabutan gigi bungsu impaksi.

Setelah efek anestesi berkurang, rasa nyeri, tidak nyaman, atau pembengkakan dapat muncul sebagai bagian dari proses pemulihan. Dokter kemudian akan memberikan petunjuk perawatan setelah tindakan sesuai dengan kondisi pasien.

Tingkat kesulitan operasi pun tidak sama pada setiap orang. Posisi gigi, bentuk akar, kedalaman gigi di dalam tulang, serta kondisi jaringan di sekitarnya ikut menentukan kompleksitas tindakan.

Gigi Bungsu Miring tetapi Tidak Sakit, Boleh Dibiarkan?

Bisa saja.

Clinical Practice Guideline SECIB tahun 2024 menemukan bahwa gigi bungsu yang asimptomatik dan bebas dari patologi pada kondisi tertentu dapat dipertahankan dengan pemantauan aktif, alih-alih langsung dicabut.

Namun, “tidak sakit” bukan berarti boleh diabaikan selamanya.

Beberapa masalah pada gigi atau jaringan di sekitarnya dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal.

Karena itu, jika mengetahui bahwa gigi bungsu tumbuh miring, pemeriksaan berkala tetap menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan menunggu sampai muncul sakit hebat.

Cari Operasi Gigi Bungsu Cempaka Putih?

Jika Anda merasakan sakit di belakang rahang, gusi sering membengkak, makanan mudah tersangkut, atau menduga mengalami gigi bungsu impaksi, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat membantu mengetahui penyebabnya.

Bagi Anda yang sedang mencari dokter gigi Cempaka Putih, Estetika Dental Clinic menyediakan layanan pemeriksaan serta operasi gigi bungsu Cempaka Putih bagi pasien dengan indikasi yang sesuai.

Estetika Dental Clinic berada di Jl. Cempaka Putih Raya B4, Jakarta Pusat.

Sebelum menentukan tindakan, dokter akan terlebih dahulu mengevaluasi kondisi gigi dan jaringan di sekitarnya sehingga perawatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Sebab pada akhirnya, gigi bungsu tumbuh miring memang tidak selalu harus dicabut. Yang terpenting adalah mengetahui kondisinya lebih awal sebelum muncul masalah pada gigi maupun jaringan di sekitarnya.

Jika bagian belakang gigi mulai sering terasa tidak nyaman, jangan menunggu sampai sakitnya semakin mengganggu. Konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter gigi untuk mengetahui apakah cukup dipantau atau memang sudah waktunya mendapatkan tindakan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun konsultasi langsung dengan dokter gigi.

Referensi

[1] Pinto AC, Francisco H, Marques D, Martins JNR, Caramês J. Worldwide Prevalence and Demographic Predictors of Impacted Third Molars—Systematic Review with Meta-Analysis. Journal of Clinical Medicine. 2024;13(24):7533. doi:10.3390/jcm13247533.

[2] Sánchez-Garcés MÁ, Toledano-Serrabona J, Camps-Font O, Peñarrocha-Diago M, Sánchez-Torres A, Sanmartí-Garcia G, et al. Diagnosis and Indications for the Extraction of Third Molars – The SECIB Clinical Practice Guideline. Medicina Oral, Patología Oral y Cirugía Bucal. 2024;29(4):e545–e551. doi:10.4317/medoral.26524.

[3] Sun R, Xu Y, Wu Y, et al. Expert Consensus on the Management of Third Molar Health. International Journal of Oral Science. 2026;18:36. doi:10.1038/s41368-025-00413-4.

[4] Revuelta-Cortés P, Cortés-Bretón Brinkmann J, Argandoña-Flores M, et al. Prevalence of Distal Caries in Second Molar Associated with Impacted Mandibular Third Molar and the Position and Level of Impaction: A Systematic Review and Meta-analysis. Clinical Oral Investigations. 2025;29(1):83. doi:10.1007/s00784-024-06131-1.

[5] American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMS). The Management of Impacted Third Molar Teeth. Clinical Condition Statement. AAOMS; 2024.

[6] Benavides E, Krecioch JR, Allareddy T, et al. American Dental Association and American Academy of Oral and Maxillofacial Radiology Patient Selection for Dental Radiography and Cone-Beam Computed Tomography: Clinical Recommendations. Journal of the American Dental Association. 2026;157(1):20–35.e5. doi:10.1016/j.adaj.2025.10.013.

You might also like